Tepat pada
sebelas tahun yang lalu,kedua anggota keluarga kecilku,kakak dan
bapakku,divonis mengidap penyakit berbahaya,yang bisa saja merenggut kedua
nyawa mereka.Pada saat itu aku berumur 4 tahun,umur yang masih seperti tanaman
sawit yang baru bisa dipanen,jika pun itu dirawat.
Pada suatu hari,ibuku ingin
mengantarkan ayah dan kakakku untuk berobat di Bengkayang,yang kabarnya tempat
itu adalah tempat tradisional yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam,dan
menggunakan bahan dari alam.Aku dititipkan oleh ibuku di rumah bibi yang tidak
jauh dari rumah kami, “ dek,adek sama
abang tinggal sama bibi ya,mama mau ngantar bapak sama kakak berobat di
Bengkayang” ucap ibuku,lalu aku dan abangku menjawab “ ya ma,tapi mama disana jangan lama-lama ya”,lalu ibuku menjawab “ya,adek sama abang jangan nakal ya,abang
jaga adek baik-baik ya”.
Setelah beberapa hari kemudian,ibuku
pulang dari Bengkayang dengan kakakku,aku bertanya kepada ibu, “ma,apakah kakak sudah sembuh?”, jawab
ibuku “belum sembuh ,tapi sudah mendingan
kondisinya”.Lalu aku bertanya lagi “kakak
sakit apa sih,kalo bapak kok belum dibawa pulang?” ibuku menjawab “kakak sakit kanker payudara,kalo bapak
masih memerlukan waktu yang lama,agar kondisinya pulih kembali”. Aku
terdiam sejenak mendengar cerita ibuku,air mataku ingin sekali mengalir,seiring
dengan hatiku yang sedang goyah dan terombang-ambing akibat dari alunan cerita
yang dikeluarkan dari mulut ibuku yang kecil itu,tapi semua itu ku tahan,karena
aku tidak mau melihat ibuku sedih karena aku.
Pada suatu hari,ibuku pergi dan
meninggalkan dan menitipkan aku serta abangku di rumah bibiku,karena beliau
ingin mengantarkan kakakku untuk berkonsultasi,dan sambil melihat kondisi
ayahku.Pada hari itu,sekitar pukul 5 sore di teras rumah,aku duduk di kursi
plastik yang telah kusam,yang ditemani oleh sebuah meja,dan beberapa pot bunga
serta tanamannya,tanaman-tanaman tersebut yang layu,sama seperti hatiku yang
layu ini.Sambil termangu dan melamun,terlihat dari kejauhan,seorang perempuan
yang menggunakan helm dan membawa motor,yang entah apa lagi mereknya,karena
motor tua dan sudah dimodifikasi,ternyata perempuan itu adalah bibiku yang baru
saja pulang dari kebun dan membawa beberapa potong ubi dan beberapa jenis
sayuran di dalam takinnya.Bibiku bertanya kepadaku,yang masih duduk seperti
orang yang tidak berdaya, “ kamu
kenapa,kamu sakit?”, aku menjawab “
aku tidak apa-apa” , dia bertanya lagi penasaran, “ jangan bohong dek,kamu pasti memikirkan bapak dan kakakmu ya”,aku
menarik nafas panjang,aku tidak bisa mengelak apa yang telah diucapka oleh
bibiku, beliau seperti detektif yang selalu ingi mencari informasi,lalu aku
menjawab, “ iya,kapan ya mereka pulang?”
bibiku yang sedang berdiri,lalu duduk di sampingku,beliau juga menghela nafas
panjang,seperti tidak kuasa untuk mengeluarkan kata-kata yang ingin ia ucapkan,dan dengan nada sedih ia
menjawab,”ntah lah bibi juga tidak tahu,yang penting kita doakan agar mereka
cepat sembuh”, lalu aku menjawab “ya,bi”.
Beberapa hari kemuduan,ibuku
pulang,beliau pulang tidak bersama dengan kakak dan ayahku,ibuku mengatakan
kakakku akan pulang 2 minggu lagi,ayahku belum tahu kepastian kapan beliau akan
pulang.Setelah dua minggu kemudian,kakakku boleh pulang,dan keadaannya juga
sudah membaik,jika dibandingkan dengan orang yang mengidap penyakit kanker yang
lebih ganas dari pada penyakitnya,sedangkan ayah,keadaannya belum
membaik,karena keadaanya yang belum membaik,beliau harus dibawa pulang,dan
harus berobat ke medis,ibuku memutuskan untuk berobat ke Pontianak.Ibuku
menangis,walaupun beliau tidak mengungkapkannya,tapi seperti adanya hubungan
batin antara aku dan ibuku. Pada saat ibu mengantarkan ayah,aku dan abangku
dititipkan di rumah bibiku,pada saat sampai di rumah sakit Antonius
Pontianak,ayah ku langsung diperiksa untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit
yang di derita ayahku, ternyata tidak beberapa lama kemudian, iagnosa penyakit yang
diderita oleh ayahku sudah bisa dilihat,dan ibuku melihat diagnosanya,dan ternyata
penyakit yang diderita oleh ayahku sudah mencapai stadium 4,dan tidak ada
harapan lagi untuk tetap ada di sisi keuarga kami. Ibuku langsung
menangis,beliau mengatakan kepada kepada dokter,bahwa ia ingin membawa ayahku
pulang,tetapi dokter belum mengizinkan ayahku karena masih ingin melihat
perkembangannya. Setelah dua hari di rumah sakit, dokter mengijinkan ayahku
untuk di bawa pulang,karena keadaannya sudah membaik. Pada saat dalam
perjalanan dan hampir sampai di rumah,ayahku mengatakan kepada ibuku bahwa
untuk beberapa hari beliau ingin tinggal di rumah nenekku. Ibuku
mengijinkannya. Ketika sampai di rumah nenekku, ayahku mulai melemah dan beliau
hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas kasur,beliau seperti pohon yang
telah tumbang,dan tinggal menunggu kapan saatnya lagi akan dibuang. Pada malam
hari sekitar pukul tujuh malam, keluarga besarku mengadakan doa bersama untuk
mendoakan ayahku agar cepat sembuh,setelah selesai mengadakan doa bersama
mereka pun berbincang-bincang. Sekitar pukul sembilan malam,keluargaku pulang
ke rumah mereka masing-masing,kecuali aku dan keluarga kecilku,nenek serta bibi
dan pamanku yang memang tinggal di rumah itu.
Sekitar pukul empat pagi,ibuku
bangun karena ia tidak bisa tidur. Sekitar pukul 04.30 ayahku bangun,dan beliau
mengatakan kepada ibuku bahwa beliau ingin mandi,ibuku heran kenapa tiba-tiba
ayahku ingin mandi pagi-pagi sekali,tetapi ibuku tidak berpikir panjang, lalu
ibuku memandikan ayahku. Setelah ibuku memandikan ayahku dan menggantikan
bajunya,ayahku merngatakan bahwa beliau ingin makan,ibuku heran kenapa
pagi-pagi begini selera makannya sudah ada padahal biasanya tidak ada selera
untuk makan. Karena takut selera makan ayahku hilang,ibuku langsung memasak
bubur. Sekitar pukul 05.30,setelah selesai makan,dan setelah selesai berbicara
dengan ibuku sebentar,ayahku mengatakan bahwa beliau ingin tidur,ibuku
merasakan firasat buruk,karena apa yang diinginkan oleh ayahku tadi,semua tidak
masuk akal,semua yang dimintanya,tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ayahku
seperti tau apa yang dipikirkan ibuku,lalu ia mengatakan bahwa,” jangan
sedih,aku akan selalu ada di sisimu,aku selalu bersamamu,tapi aku tidak ada
dikehidupan sehari-harimu,” ibuku mencoba menenangkan diri,setelah itu ayahku
memberikan pesan terakhirnya,untuk menjaga keempat anaknya dengan baik. Lalu ibuku
mengiklaskannya dan memperbolehkan ayahku tidur. Setelah beberapa lama ayahku
tidur,beliau menarikkan nafas panjang dan nafasnya berhenti seiring ibuku yang
sedang meneteskan air mata melihat ayahku,yang tidur terpaku tidak berdaya,lalu
bibi dan pamanku menelpon semua keluarga untuk membantu membersihkan rumah dan
mengurus pemakaman besok. Aku bertanya kepada ibuku,apa yang sebenarnya terjadi
dengan ayahku,lalu ibuku mengatakan bahwa ayahku sudah meninggal,lalu aku
langsung menangis histeris dan teriak-teriak seperti orang gila,padahal
biasanya anak sekecil aku yang masih seukuran jagung yang masih muda, tidak tau
dan tidak mengerti maksud itu ,tetapi berbeda dengan aku yang paham dengan
semua itu. Setelah beberapa lama,datang keluarga-keluargaku. Ibu dan bibiku
pergi untuk membeli bahan dan alat pemakaman,semua keluargaku tak terkecuali
pamanku,membantu untuk membuat peti,dan mengurus pemakaman ayahku esok harinya.
Melihat ibuku aku merasa kasihan karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan
ibuku dengan salah satu bibiku bahwa uangnya tidak cukup untuk membayar semua
keperluan pemakaman ayahku karena uangnya sudah habis untuk biaya berobat
kakakku dan almarhum ayahku,dan ibuku ingi meminjam uang bibiku, lalu bibiku
meminjamkan uangnya . aku merasa sedih,karena aku belum bisa membantu ibuku. Setelah
kira-kira 5 hari meninggalnya ayahku,ibuku melunasi semua keperluan pemakaman
ayahku kemarin dan uang yang beliau pinjam ke bibi,dari uang sumbangan yang
diberika oleh tetangga serta kerabat-kerabat dari ibu dan almarhum ayah,yang
datang pada waktu itu.
Akhirnya beberapa bulan
kemudian,sebelum ayahku meninggal,mereka memiliki kebun jeruk yang cukup
menghasilkan. Setelah ayahku meninggal,ibuku sendiri yang mengurus tanaman
jeruk sehingga dapat panen denagn hasil yang cukup,dan di jual. Uang hasil
penjaulan jeruk tersebut dipakai ibu untuk biaya kuliah kakakku,uang sekolah ku
serta abangku.
Helena
Cindy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar