Rabu, 16 November 2016

Kenyataan yang membuatku berjuang

Tepat pada sebelas tahun yang lalu,kedua anggota keluarga kecilku,kakak dan bapakku,divonis mengidap penyakit berbahaya,yang bisa saja merenggut kedua nyawa mereka.Pada saat itu aku berumur 4 tahun,umur yang masih seperti tanaman sawit yang baru bisa dipanen,jika pun itu dirawat.
            Pada suatu hari,ibuku ingin mengantarkan ayah dan kakakku untuk berobat di Bengkayang,yang kabarnya tempat itu adalah tempat tradisional yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam,dan menggunakan bahan dari alam.Aku dititipkan oleh ibuku di rumah bibi yang tidak jauh dari rumah kami, “ dek,adek sama abang tinggal sama bibi ya,mama mau ngantar bapak sama kakak berobat di Bengkayang” ucap ibuku,lalu aku dan abangku menjawab “ ya ma,tapi mama disana jangan lama-lama ya”,lalu ibuku menjawab “ya,adek sama abang jangan nakal ya,abang jaga adek baik-baik ya”.
            Setelah beberapa hari kemudian,ibuku pulang dari Bengkayang dengan kakakku,aku bertanya kepada ibu, “ma,apakah kakak sudah sembuh?”, jawab ibuku “belum sembuh ,tapi sudah mendingan kondisinya”.Lalu aku bertanya lagi “kakak sakit apa sih,kalo bapak kok belum dibawa pulang?” ibuku menjawab “kakak sakit kanker payudara,kalo bapak masih memerlukan waktu yang lama,agar kondisinya pulih kembali”. Aku terdiam sejenak mendengar cerita ibuku,air mataku ingin sekali mengalir,seiring dengan hatiku yang sedang goyah dan terombang-ambing akibat dari alunan cerita yang dikeluarkan dari mulut ibuku yang kecil itu,tapi semua itu ku tahan,karena aku tidak mau melihat ibuku sedih karena aku.
            Pada suatu hari,ibuku pergi dan meninggalkan dan menitipkan aku serta abangku di rumah bibiku,karena beliau ingin mengantarkan kakakku untuk berkonsultasi,dan sambil melihat kondisi ayahku.Pada hari itu,sekitar pukul 5 sore di teras rumah,aku duduk di kursi plastik yang telah kusam,yang ditemani oleh sebuah meja,dan beberapa pot bunga serta tanamannya,tanaman-tanaman tersebut yang layu,sama seperti hatiku yang layu ini.Sambil termangu dan melamun,terlihat dari kejauhan,seorang perempuan yang menggunakan helm dan membawa motor,yang entah apa lagi mereknya,karena motor tua dan sudah dimodifikasi,ternyata perempuan itu adalah bibiku yang baru saja pulang dari kebun dan membawa beberapa potong ubi dan beberapa jenis sayuran di dalam takinnya.Bibiku bertanya kepadaku,yang masih duduk seperti orang yang tidak berdaya, “ kamu kenapa,kamu sakit?”, aku menjawab “ aku tidak apa-apa” , dia bertanya lagi penasaran, “ jangan bohong dek,kamu pasti memikirkan bapak dan kakakmu ya”,aku menarik nafas panjang,aku tidak bisa mengelak apa yang telah diucapka oleh bibiku, beliau seperti detektif yang selalu ingi mencari informasi,lalu aku menjawab, “ iya,kapan ya mereka pulang?” bibiku yang sedang berdiri,lalu duduk di sampingku,beliau juga menghela nafas panjang,seperti tidak kuasa untuk mengeluarkan kata-kata yang ingin  ia ucapkan,dan dengan nada sedih ia menjawab,”ntah lah bibi juga tidak tahu,yang penting kita doakan agar mereka cepat sembuh”, lalu aku menjawab “ya,bi”.
            Beberapa hari kemuduan,ibuku pulang,beliau pulang tidak bersama dengan kakak dan ayahku,ibuku mengatakan kakakku akan pulang 2 minggu lagi,ayahku belum tahu kepastian kapan beliau akan pulang.Setelah dua minggu kemudian,kakakku boleh pulang,dan keadaannya juga sudah membaik,jika dibandingkan dengan orang yang mengidap penyakit kanker yang lebih ganas dari pada penyakitnya,sedangkan ayah,keadaannya belum membaik,karena keadaanya yang belum membaik,beliau harus dibawa pulang,dan harus berobat ke medis,ibuku memutuskan untuk berobat ke Pontianak.Ibuku menangis,walaupun beliau tidak mengungkapkannya,tapi seperti adanya hubungan batin antara aku dan ibuku. Pada saat ibu mengantarkan ayah,aku dan abangku dititipkan di rumah bibiku,pada saat sampai di rumah sakit Antonius Pontianak,ayah ku langsung diperiksa untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit yang di derita ayahku, ternyata tidak beberapa lama kemudian, iagnosa penyakit yang diderita oleh ayahku sudah bisa dilihat,dan ibuku melihat diagnosanya,dan ternyata penyakit yang diderita oleh ayahku sudah mencapai stadium 4,dan tidak ada harapan lagi untuk tetap ada di sisi keuarga kami. Ibuku langsung menangis,beliau mengatakan kepada kepada dokter,bahwa ia ingin membawa ayahku pulang,tetapi dokter belum mengizinkan ayahku karena masih ingin melihat perkembangannya. Setelah dua hari di rumah sakit, dokter mengijinkan ayahku untuk di bawa pulang,karena keadaannya sudah membaik. Pada saat dalam perjalanan dan hampir sampai di rumah,ayahku mengatakan kepada ibuku bahwa untuk beberapa hari beliau ingin tinggal di rumah nenekku. Ibuku mengijinkannya. Ketika sampai di rumah nenekku, ayahku mulai melemah dan beliau hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas kasur,beliau seperti pohon yang telah tumbang,dan tinggal menunggu kapan saatnya lagi akan dibuang. Pada malam hari sekitar pukul tujuh malam, keluarga besarku mengadakan doa bersama untuk mendoakan ayahku agar cepat sembuh,setelah selesai mengadakan doa bersama mereka pun berbincang-bincang. Sekitar pukul sembilan malam,keluargaku pulang ke rumah mereka masing-masing,kecuali aku dan keluarga kecilku,nenek serta bibi dan pamanku yang memang tinggal di rumah itu.
            Sekitar pukul empat pagi,ibuku bangun karena ia tidak bisa tidur. Sekitar pukul 04.30 ayahku bangun,dan beliau mengatakan kepada ibuku bahwa beliau ingin mandi,ibuku heran kenapa tiba-tiba ayahku ingin mandi pagi-pagi sekali,tetapi ibuku tidak berpikir panjang, lalu ibuku memandikan ayahku. Setelah ibuku memandikan ayahku dan menggantikan bajunya,ayahku merngatakan bahwa beliau ingin makan,ibuku heran kenapa pagi-pagi begini selera makannya sudah ada padahal biasanya tidak ada selera untuk makan. Karena takut selera makan ayahku hilang,ibuku langsung memasak bubur. Sekitar pukul 05.30,setelah selesai makan,dan setelah selesai berbicara dengan ibuku sebentar,ayahku mengatakan bahwa beliau ingin tidur,ibuku merasakan firasat buruk,karena apa yang diinginkan oleh ayahku tadi,semua tidak masuk akal,semua yang dimintanya,tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ayahku seperti tau apa yang dipikirkan ibuku,lalu ia mengatakan bahwa,” jangan sedih,aku akan selalu ada di sisimu,aku selalu bersamamu,tapi aku tidak ada dikehidupan sehari-harimu,” ibuku mencoba menenangkan diri,setelah itu ayahku memberikan pesan terakhirnya,untuk menjaga keempat anaknya dengan baik. Lalu ibuku mengiklaskannya dan memperbolehkan ayahku tidur. Setelah beberapa lama ayahku tidur,beliau menarikkan nafas panjang dan nafasnya berhenti seiring ibuku yang sedang meneteskan air mata melihat ayahku,yang tidur terpaku tidak berdaya,lalu bibi dan pamanku menelpon semua keluarga untuk membantu membersihkan rumah dan mengurus pemakaman besok. Aku bertanya kepada ibuku,apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku,lalu ibuku mengatakan bahwa ayahku sudah meninggal,lalu aku langsung menangis histeris dan teriak-teriak seperti orang gila,padahal biasanya anak sekecil aku yang masih seukuran jagung yang masih muda, tidak tau dan tidak mengerti maksud itu ,tetapi berbeda dengan aku yang paham dengan semua itu. Setelah beberapa lama,datang keluarga-keluargaku. Ibu dan bibiku pergi untuk membeli bahan dan alat pemakaman,semua keluargaku tak terkecuali pamanku,membantu untuk membuat peti,dan mengurus pemakaman ayahku esok harinya. Melihat ibuku aku merasa kasihan karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ibuku dengan salah satu bibiku bahwa uangnya tidak cukup untuk membayar semua keperluan pemakaman ayahku karena uangnya sudah habis untuk biaya berobat kakakku dan almarhum ayahku,dan ibuku ingi meminjam uang bibiku, lalu bibiku meminjamkan uangnya . aku merasa sedih,karena aku belum bisa membantu ibuku. Setelah kira-kira 5 hari meninggalnya ayahku,ibuku melunasi semua keperluan pemakaman ayahku kemarin dan uang yang beliau pinjam ke bibi,dari uang sumbangan yang diberika oleh tetangga serta kerabat-kerabat dari ibu dan almarhum ayah,yang datang pada waktu itu.
            Akhirnya beberapa bulan kemudian,sebelum ayahku meninggal,mereka memiliki kebun jeruk yang cukup menghasilkan. Setelah ayahku meninggal,ibuku sendiri yang mengurus tanaman jeruk sehingga dapat panen denagn hasil yang cukup,dan di jual. Uang hasil penjaulan jeruk tersebut dipakai ibu untuk biaya kuliah kakakku,uang sekolah ku serta abangku.






Helena Cindy
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar