Kamis, 24 November 2016

Hidup di Asrama

HIDUP DI ASRAMA

            Sebagian orang mungkin berpikir bahwa tinggal diasrama sangat menyenangkan. Mengenal teman-teman baru. Tetapi ada pula sebagian orang berpikir bahwa tinggal diasrama itu itu susah. Jauh dari orang tua,jauh dari keluarga.

            Tetapi, menurutku tinggal diasrama itu menyenangkan sekaligus menyedihkan. Kedua perasaan itu akan muncul dan selalu ada selama masih tinggal diasrama.

            Dulu, ketika aku masih duduk dibangku SMP, aku mengira kalau hidup diasrama itu menyenangkan,karena melihat teman-teman sekelas yang tinggal diasrama selalu ceria dan heboh. Apabila mereka bercerita bahwa hidup diasrama itu susah,aku tidak terlalu yakin dan menganggap hal itu sebenarnya tidak terlalu susah karena melihat mereka selalu ceria.

            Melihat hal itu,aku dan adikku sepakat untuk menlanjutkan SMA keSingkawang dan tinggal diasrama. Orang tua kami memberi kebebasan kepada kami untuk memilih melanjutkan SMA keSingkawang. Mereka setuju dan setelah ujian nasional,kami pergi keSingkawang untuk daftar sekolah dan asrama. Selain aku dan adikku,beberapa orang kawanku juga ikut mendaftar sekolah disana.

            Hari berganti hari,bulanpun ikut berganti. Tak terasa hari ini aku harus pergi keasrama dan tinggal untuk sementara disana selama aku bersekolah diSingkawang. Pagi-pagi sekali, kami sudah berangkat dari rumah karena jarak yang jauh. Diperjalan, tiba-tiba saja aku berpikir tentang bagaimana bila aku tinggal disana. Jauh dari orang tua,jauh dari keluarga dan teman-teman. Bagaimana rasanya? Dari kecil, aku tidak pernah merasakan hidup jauh dari orang tua dan keluargaku. Bagaimana rasanya bila jauh dari orang tua dan keluargaku. Bagaimana rasanya bila jauh dari mereka?

Tak terasa, kami sudah memasuki gerbang asrama. Aku dan keluarga turun dari mobil dan berjalan memasuki asrama. Disana berdiri seorang suster pembina asrama,dia memberitahu dimana letak dan nomor lemari pakaian aku dan adikku. Setelah mendapat lemari, aku dan ibuku menyusun pakaianku. Pakaian yang kubawa tidak begitu banyak,jadi tidak perlu memakan waktu yang lama untuk menyusunnya.

            Setelah membantuku menyusun pakaian, keluargaku akan pulang. Aku sedikit terkejut melihat mereka akan pulang sekarang kata mereka supaya sampai dirumah tidak terlalu larut malam. Sebelum mereka akupun memeluk mereka semua, berat rasanya hati untuk berpisah dengan mereka dan tak kusangka air mataku jatuh dan aku segera menghapusnya tap ntah kenapa air itu seakan mengalir deras dan tak bisa berhenti.

            Abang kutertawa saat melihatku menangis dan mamaku pun memelukku dan menyemangatiku. Aku cukup terhibur. Dan kemudian merekapun pulang, tiba-tiba saja ada perasaan yang berbeda. Disore seperti ini, biasanya aku berada dirumah,menonton televisi atau baring ditempat tidur, tetapi sekarang aku berada ditempat asing dan jauh dari keluarga. Tetapi, aku tidak mau memikirkannya. Lalu Aku dan Adikku pergi menuju tempat untuk mandi.

            Selesai mandi, aku dan semua orang yang tinggal diasrama makan malam. Kupandangi satu-satu orang didalam ruangan itu sangat asing bagiku, aku tidak begitu tau asal mereka darimana dan kamipun berkenalan dan mencoba untuk menjalin pertemanan. Tak lama bagi kami untuk saling mengenal, becanda dan bergembira bersama. Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan asrama.

            Jam sudah menunjukan 09.00, pertanda untuk jam tidur. Kami segera menuju ruang aula untuk berdoa bersama. Selesai berdoa, kami semua naik keloteng untuk tidur.
            Mataku sulit untuk terpejam, aku merasa susah untuk tidur. Aku berpikir bagaimana keluargaku dirumah? Apa yang sedang mereka lakukan saat ini? Aku teringat biasanya aku, berkumpul bersama keluargaku, menonton televisi bersama, bercerita kepada mama. Tetapi sekarang aku berada jauh dari mereka.

 Aku tidak mengetahui kegiatan apa yang mereka lakukan saat ini. Hati kecilku berteriak ingin pulang dan aku membayangkan jika sekarang ada pintu doraemon yang bisa langsung tembus dirumahku. Aku sangat merindukan mereka.
Keesokan harinya, aku dan teman-temaku pergi kepasar untuk berbelanja dan makan siang. Sangat lucu saat kami berjalan berbondong-bondong seperti anak bebek dan membawa kantong plastik belanjaan yang lumayan banyak. Kami merasa bahagia.
Sebenarnya kami sangat merindukan keluarga dirumah. Kami ingin pulang melepas rindu dihati. Tetapi kami sadar, kami datang jauh-jauh dari berbagai daerah untuk mengenyam pendidikan disini untuk mencari ilmu dan belajar.  Akhirnya, kami sepakat untuk membuat sebuah perjanjian. Selama tiga tahun kami akan tetap bersekolah disini, tidak boleh ada yang pindah dan harus tetap bersama-sama.

Ya, walaupun besarnya rasa rindu kepada keluarga tetapi kami harus tetap tinggal diasrama, apabila diantara kami ada yang tidak mampu kami akan saling memberi semangat. Tetapi, pasti akan ada hal yang membuat salah satu dari kami untuk mundur dan pindah sekolah. Termasuk adikku akan pulang keruamah dan tidak mampu lagi tinggal diasrama.
Tinggal diasrama memang tidak enak, mulai dari bangun tidur jam 4 subuh, sarapan pagi yang tidak enak, tidak memegang alat komunikasi apalagi kalau mulai ada masalah seperti masalah keuangan atau jath sakit. Pada saat itulah, aku merasa tidak ingin jauh dari keluarga. Andaikan aku tidak jauh dari mereka, pastinya mereka ada didekatku untuk membantu. Itu yang membuatku berpikir bahwa betapa pentingnya keluarga didalam hidup.

Tinggal diasrama mengajarkanku betapa pentingnya menjalin sebuah persahabatan. Mereka yang menjadi teman yang akan menolong, dan menghibur disaat aku berada dalam kesusahan kami selalu tolong menolong dan bergembira bersama-sama. Teman-temanlah yang membuatku betah untuk tinggal diasrama.
Dan sekarang ku setuju dengan pendapat temanku bahwa hidup diasrama itu susah, tetapi ada pula bahagia karena aku pernah mengalami bagaimana rasanya tinggal diasrama.

Penulis


Maria Agnesi Angi

Rabu, 16 November 2016

Kenyataan yang membuatku berjuang

Tepat pada sebelas tahun yang lalu,kedua anggota keluarga kecilku,kakak dan bapakku,divonis mengidap penyakit berbahaya,yang bisa saja merenggut kedua nyawa mereka.Pada saat itu aku berumur 4 tahun,umur yang masih seperti tanaman sawit yang baru bisa dipanen,jika pun itu dirawat.
            Pada suatu hari,ibuku ingin mengantarkan ayah dan kakakku untuk berobat di Bengkayang,yang kabarnya tempat itu adalah tempat tradisional yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam,dan menggunakan bahan dari alam.Aku dititipkan oleh ibuku di rumah bibi yang tidak jauh dari rumah kami, “ dek,adek sama abang tinggal sama bibi ya,mama mau ngantar bapak sama kakak berobat di Bengkayang” ucap ibuku,lalu aku dan abangku menjawab “ ya ma,tapi mama disana jangan lama-lama ya”,lalu ibuku menjawab “ya,adek sama abang jangan nakal ya,abang jaga adek baik-baik ya”.
            Setelah beberapa hari kemudian,ibuku pulang dari Bengkayang dengan kakakku,aku bertanya kepada ibu, “ma,apakah kakak sudah sembuh?”, jawab ibuku “belum sembuh ,tapi sudah mendingan kondisinya”.Lalu aku bertanya lagi “kakak sakit apa sih,kalo bapak kok belum dibawa pulang?” ibuku menjawab “kakak sakit kanker payudara,kalo bapak masih memerlukan waktu yang lama,agar kondisinya pulih kembali”. Aku terdiam sejenak mendengar cerita ibuku,air mataku ingin sekali mengalir,seiring dengan hatiku yang sedang goyah dan terombang-ambing akibat dari alunan cerita yang dikeluarkan dari mulut ibuku yang kecil itu,tapi semua itu ku tahan,karena aku tidak mau melihat ibuku sedih karena aku.
            Pada suatu hari,ibuku pergi dan meninggalkan dan menitipkan aku serta abangku di rumah bibiku,karena beliau ingin mengantarkan kakakku untuk berkonsultasi,dan sambil melihat kondisi ayahku.Pada hari itu,sekitar pukul 5 sore di teras rumah,aku duduk di kursi plastik yang telah kusam,yang ditemani oleh sebuah meja,dan beberapa pot bunga serta tanamannya,tanaman-tanaman tersebut yang layu,sama seperti hatiku yang layu ini.Sambil termangu dan melamun,terlihat dari kejauhan,seorang perempuan yang menggunakan helm dan membawa motor,yang entah apa lagi mereknya,karena motor tua dan sudah dimodifikasi,ternyata perempuan itu adalah bibiku yang baru saja pulang dari kebun dan membawa beberapa potong ubi dan beberapa jenis sayuran di dalam takinnya.Bibiku bertanya kepadaku,yang masih duduk seperti orang yang tidak berdaya, “ kamu kenapa,kamu sakit?”, aku menjawab “ aku tidak apa-apa” , dia bertanya lagi penasaran, “ jangan bohong dek,kamu pasti memikirkan bapak dan kakakmu ya”,aku menarik nafas panjang,aku tidak bisa mengelak apa yang telah diucapka oleh bibiku, beliau seperti detektif yang selalu ingi mencari informasi,lalu aku menjawab, “ iya,kapan ya mereka pulang?” bibiku yang sedang berdiri,lalu duduk di sampingku,beliau juga menghela nafas panjang,seperti tidak kuasa untuk mengeluarkan kata-kata yang ingin  ia ucapkan,dan dengan nada sedih ia menjawab,”ntah lah bibi juga tidak tahu,yang penting kita doakan agar mereka cepat sembuh”, lalu aku menjawab “ya,bi”.
            Beberapa hari kemuduan,ibuku pulang,beliau pulang tidak bersama dengan kakak dan ayahku,ibuku mengatakan kakakku akan pulang 2 minggu lagi,ayahku belum tahu kepastian kapan beliau akan pulang.Setelah dua minggu kemudian,kakakku boleh pulang,dan keadaannya juga sudah membaik,jika dibandingkan dengan orang yang mengidap penyakit kanker yang lebih ganas dari pada penyakitnya,sedangkan ayah,keadaannya belum membaik,karena keadaanya yang belum membaik,beliau harus dibawa pulang,dan harus berobat ke medis,ibuku memutuskan untuk berobat ke Pontianak.Ibuku menangis,walaupun beliau tidak mengungkapkannya,tapi seperti adanya hubungan batin antara aku dan ibuku. Pada saat ibu mengantarkan ayah,aku dan abangku dititipkan di rumah bibiku,pada saat sampai di rumah sakit Antonius Pontianak,ayah ku langsung diperiksa untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit yang di derita ayahku, ternyata tidak beberapa lama kemudian, iagnosa penyakit yang diderita oleh ayahku sudah bisa dilihat,dan ibuku melihat diagnosanya,dan ternyata penyakit yang diderita oleh ayahku sudah mencapai stadium 4,dan tidak ada harapan lagi untuk tetap ada di sisi keuarga kami. Ibuku langsung menangis,beliau mengatakan kepada kepada dokter,bahwa ia ingin membawa ayahku pulang,tetapi dokter belum mengizinkan ayahku karena masih ingin melihat perkembangannya. Setelah dua hari di rumah sakit, dokter mengijinkan ayahku untuk di bawa pulang,karena keadaannya sudah membaik. Pada saat dalam perjalanan dan hampir sampai di rumah,ayahku mengatakan kepada ibuku bahwa untuk beberapa hari beliau ingin tinggal di rumah nenekku. Ibuku mengijinkannya. Ketika sampai di rumah nenekku, ayahku mulai melemah dan beliau hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas kasur,beliau seperti pohon yang telah tumbang,dan tinggal menunggu kapan saatnya lagi akan dibuang. Pada malam hari sekitar pukul tujuh malam, keluarga besarku mengadakan doa bersama untuk mendoakan ayahku agar cepat sembuh,setelah selesai mengadakan doa bersama mereka pun berbincang-bincang. Sekitar pukul sembilan malam,keluargaku pulang ke rumah mereka masing-masing,kecuali aku dan keluarga kecilku,nenek serta bibi dan pamanku yang memang tinggal di rumah itu.
            Sekitar pukul empat pagi,ibuku bangun karena ia tidak bisa tidur. Sekitar pukul 04.30 ayahku bangun,dan beliau mengatakan kepada ibuku bahwa beliau ingin mandi,ibuku heran kenapa tiba-tiba ayahku ingin mandi pagi-pagi sekali,tetapi ibuku tidak berpikir panjang, lalu ibuku memandikan ayahku. Setelah ibuku memandikan ayahku dan menggantikan bajunya,ayahku merngatakan bahwa beliau ingin makan,ibuku heran kenapa pagi-pagi begini selera makannya sudah ada padahal biasanya tidak ada selera untuk makan. Karena takut selera makan ayahku hilang,ibuku langsung memasak bubur. Sekitar pukul 05.30,setelah selesai makan,dan setelah selesai berbicara dengan ibuku sebentar,ayahku mengatakan bahwa beliau ingin tidur,ibuku merasakan firasat buruk,karena apa yang diinginkan oleh ayahku tadi,semua tidak masuk akal,semua yang dimintanya,tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ayahku seperti tau apa yang dipikirkan ibuku,lalu ia mengatakan bahwa,” jangan sedih,aku akan selalu ada di sisimu,aku selalu bersamamu,tapi aku tidak ada dikehidupan sehari-harimu,” ibuku mencoba menenangkan diri,setelah itu ayahku memberikan pesan terakhirnya,untuk menjaga keempat anaknya dengan baik. Lalu ibuku mengiklaskannya dan memperbolehkan ayahku tidur. Setelah beberapa lama ayahku tidur,beliau menarikkan nafas panjang dan nafasnya berhenti seiring ibuku yang sedang meneteskan air mata melihat ayahku,yang tidur terpaku tidak berdaya,lalu bibi dan pamanku menelpon semua keluarga untuk membantu membersihkan rumah dan mengurus pemakaman besok. Aku bertanya kepada ibuku,apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku,lalu ibuku mengatakan bahwa ayahku sudah meninggal,lalu aku langsung menangis histeris dan teriak-teriak seperti orang gila,padahal biasanya anak sekecil aku yang masih seukuran jagung yang masih muda, tidak tau dan tidak mengerti maksud itu ,tetapi berbeda dengan aku yang paham dengan semua itu. Setelah beberapa lama,datang keluarga-keluargaku. Ibu dan bibiku pergi untuk membeli bahan dan alat pemakaman,semua keluargaku tak terkecuali pamanku,membantu untuk membuat peti,dan mengurus pemakaman ayahku esok harinya. Melihat ibuku aku merasa kasihan karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ibuku dengan salah satu bibiku bahwa uangnya tidak cukup untuk membayar semua keperluan pemakaman ayahku karena uangnya sudah habis untuk biaya berobat kakakku dan almarhum ayahku,dan ibuku ingi meminjam uang bibiku, lalu bibiku meminjamkan uangnya . aku merasa sedih,karena aku belum bisa membantu ibuku. Setelah kira-kira 5 hari meninggalnya ayahku,ibuku melunasi semua keperluan pemakaman ayahku kemarin dan uang yang beliau pinjam ke bibi,dari uang sumbangan yang diberika oleh tetangga serta kerabat-kerabat dari ibu dan almarhum ayah,yang datang pada waktu itu.
            Akhirnya beberapa bulan kemudian,sebelum ayahku meninggal,mereka memiliki kebun jeruk yang cukup menghasilkan. Setelah ayahku meninggal,ibuku sendiri yang mengurus tanaman jeruk sehingga dapat panen denagn hasil yang cukup,dan di jual. Uang hasil penjaulan jeruk tersebut dipakai ibu untuk biaya kuliah kakakku,uang sekolah ku serta abangku.






Helena Cindy